PENGARUH KONSENTRASI ALKOHOL DAN LAMA MASERASI DALAM PEMBUATAN EKSTRAK KERING RIMPANG TEMULAWAK SEBAGAI SEDIAAN OBAT TRADISIONAL
Oleh :
Toberni S. Situmorang, S.Si., M.Si
Dosen Universitas Efarina, Pematang Siantar
Abstrak
Untuk mendapatkan hasil ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) dalam bentuk serbuk sebagai sediaan obat tradisional. Penelitian ini dilakukan dengan bentuk Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial. Faktor pertama adalah konsentrasi alkohol dalam pembuatan ekstrak rimpang temulawak terdiri dari 4 taraf yaitu : K1 = 60%, K2 = 70%, K3 = 80% dan K4 = 90%. Faktor kedua adalah lama maserasi yang terdiri dari 4 taraf yaitu : L1 = 1 hari, L2 = 2 hari, L3 = 3 hari dan L4 = 4 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi alkohol memberi pengaruh nyata terhadap total solid, kadar abu, nilai organoleptik dan pH. Semakin tinggi konsentrasi alkohol yang yang digunakan pada proses ekstraksi rimpang temulawak total solid, kadar abu, nilai organoleptik, kekeruhan dan pH semakin meningkat. Lama maserasi memberi pengaruh nyata terhadap total solid, kadar abu, nilai organoleptik, kekeruhan dan pH ekstrak temulawak. Semakin lama maserasi total solid, kadar abu, nilai organoleptik, kekeruhan dan pH semakin meningkat.
Kata kunci : konsentrasi alkohol, lama maserasi dan temulawak